Dosen IPB Bantah Rekayasa Genetik Pada Buah Berbahaya

Dosen IPB

Pernah mendengar istilah GMO atau Genetically Modified Organisme istilah yang dipakai untuk menjelaskan sebuah rekayasa pada sebuah organisme. Di Indonesia sendiri sedang marak isu yang mengatakan bahwa pangan rekayasa genetika berbahaya bagi tubuh.

Isu ini berkembang lantaran pangan rekayasa genetika adalah sebuah inovasi dalam bidang pertanian yang keamanan dan manfaatnya belum diakui secara konsensus atau universal. Isu dan anggapan itu di bantah dan diklarifikasi oleh dosen IPB Dr Ir Darda Efendi, ahli bioteknologi buah-buahan Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Dr. Darda menjelaskan jika Rekayasa genetika yang telah sesuai dengan protokol, hasil rekayasa genetikanya tentu tidak berbahaya. Bahkan saat ini kedelai yang kita konsumsi (yang sebagian besar adalah kedelai impor), dan diolah menjadi tempe dan tahu, merupakan hasil rekayasa genetika. 

Dr Darda menyampaikan, rekayasa genetika memiliki keuntungan, yakni sebagai alat yang potensial untuk pemuliaan tanaman. Selain itu, rekayasa genetika dapat menghilangkan pembatas antarmakhluk hidup, sehingga bisa mengambil gen dari hewan, bakteri, atau cendawan tertentu yang dibutuhkan, kemudian dengan rekayasa genetika dapat ditransformasikan pada tanaman yang kita inginkan.

Selain itu Dr. Darda menyampaikan rekayasa genetika yang dilakukan secara teoretis, juga dapat mempersingkat waktu pemuliaan dibandingkan dengan pemuliaan konvensional. Rekayasa genetika memungkinkan terjadinya perubahan pada sifat-sifat tanaman, baik dengan menghilangkan sifat-sifat yang tidak dinginkan, meningkatkan atau memperkenalkan sifat-sifat baru.

Salah satu penelitian yang telah dilakukan oleh Dr Darda terkait dengan rekayasa genetika antara lain, pada buah alpukat. Dr Darda menggunakan teknik rekayasa ini sebagai solusi dalam penanganan pascapanen, yakni melalui penghambatan biosintesis etilen dan penundaan pelunakan buah dengan menonaktifkan gen pengkode ACC Oksidase.

Namun sebenarnya ada banyak contoh lainnya dari produk rekayasa genetika yang sudah lumrah kita komsusmsi secara tidak sadar, diantaranya adalah :

1.    Berbagai jenis olahan susu
Pada tahun 2010 ilmuwan berhasil mengembangkan spesies sapi perah yang lebih unggul. Sapi dari Selandia Baru ini dapat dikonsumsi oleh semua bayi yang masih kecil. Penelitian ini dilakukan karena ada 3% bayi yang mengalami alergi terhadap susu sapi yang tercampur dalam susu formula. Ilmuan di Selandia Baru mampu mengembangkan sapi anti alergi bagi bayi yang mulai dikembangkan besar-besaran hingga sekarang. Hal yang nyaris sama dilakukan oleh peneliti di Amerika. Mereka memberikan sebuah suntikan hormon yang mampu mengubah sapi secara genetik. Sapi ini mampu menghasilkan susu 10% lebih banyak dari sapi biasa. Susu sapi ini dikirim ke pabrik untuk diolah menjadi mentega, susu bubuk, ice cream, hingga keju. Bayangkan, hampir semua produk olahan dari susu sapi yang muncul di pasaran adalah produk rekayasa genetika.

2.    Pepaya
Jika anda memakan pepaya yang berasal dari Hawaii, dapat dipastikan hampir semuanya adalah buah rekayasa genetika. Hal ini terjadi karena pepaya yang berasal dari Hawaii pernah mengalami serangan virus hingga hampir semua pepaya mengalami penyakit hingga mati. Untuk mengatasi papaya ringspot virus (PRSV) penduduk setempat melakukan mutasi genetika yang membuat pepaya jadi kebal. Pengembangan ini dilakukan selama berpuluh tahun sejak virus pembunuh pepaya muncul pada tahun 1960. Akhirnya meski terlambat, pada tahun 1990, sebuah spesies pepaya GMO baru dikeluarkan. Spesies yang mendapat rekayasa genetika ini mampu tumbuh dengan subur. Dan yang terpenting lagi, pepaya ini kebal terhadap serangan virus dan hama.

3.    Kapas
Oke, kita memang tidak memakan kapas sebagai makanan. Tapi menggunakannya sebagai bahan untuk pakaian. Namun tahukah Anda jika biji dari kapas bisa digunakan untuk minyak dengan mengekstraknya. Dan hampir sebagian besar minyak dari kapas ini digunakan untuk menggoreng makanan di warung-warung cepat saji, terutama di Amerika. Hampir sekitar 35% dari minyak kapas digunakan untuk menggoreng makanan. Dan beberapa produk kemasan seperti krakers, keripik, hingga produk kosmetik. Ternyata kapas-kapas yang digunakan ini telah direkayasa genetikanya. Kapas GMO menghasilkan banyak sekali serat hingga panen akan meningkat. Belum ada penelitian yang mengatakan minyak kapas GMO buruk, namun menguranginya adalah hal baik untuk berjaga-jaga.

Posting Komentar

0 Komentar